Editor's PickFashionHighlightsTravelVideo

KABARKILAT Rerata Nilai TKA Matematika SD-SMP di Kisaran 40, Kemendikdasmen Dalami Penyebab Rendahnya Hasil Numerasi – Radar Bandung


RADARBANDUNG.ID, JAKARTA – Kementerian Dasar dan Menengah mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik () jenjang dan kemarin (26/5/2026). Rata-rata nilai sejumlah mata pelajaran masih tergolong rendah, terutama Matematika. Kepala Badan Kebijakan Dasar dan Menengah (BKPDM) Toni Toharudin mencatat, rerata nilai Matematika jenjang mencapai 43,41 dari skala 100.

Sementara, untuk sebesar 40,34. Angka tersebut masih sedikit lebih baik dibanding rerata nilai Matematika jenjang SMA tahun lalu yang berada di angka 36,10. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, rata-rata nilai peserta lebih tinggi. Jenjang mencatat nilai 60,14 dan SMP sebesar 60,83. Adapun rerata jenjang SMA tahun lalu berada di angka 55,38.

”Kalau dilihat dari skor lebih baik dibandingkan dengan jenjang SMA, SMK, atau sederajat,” ujar Toni di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, kemarin (26/5).



Menurut dia, BKPDM masih mendalami faktor penyebab rendahnya capaian Matematika dalam TKA. Analisis dilakukan secara menyeluruh, mulai aspek guru, proses pembelajaran, hingga materi yang diajarkan. Nilai Sempurna Meski rerata tergolong rendah, BKPDM juga menemukan siswa yang mendapatkan nilai sempurna. Sekitar 4 ribuan siswa mendapatkan nilai 100 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan sekitar 800-an murid pada mata pelajaran Matematika.

Toni menegaskan, hasil TKA bukan sebagai alat pelabelan sekolah, pemerintah daerah, maupun murid. Menurut dia, TKA sebagai instrumen evaluasi untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional. Hasil tes dimanfaatkan untuk evaluasi mutu pendidikan melalui lima data terintegrasi, yakni, profil kemampuan literasi dan numerasi murid, data validasi nilai rapor, pemetaan kompetensi akademik, evaluasi kurikulum, serta referensi obyektif untuk seleksi penerimaan murid baru. Metode Penilaian Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Rahmawati menjelaskan, penilaian menggunakan metode perhitungan proporsi menjawab benar yang ditransformasikan ke dalam skala 0 sampai 100. Siswa akan mendapatkan nilai 50 bila dapat menjawab benar 15 soal dari total 30 pertanyaan.

”70 persen soal TKA SMP maupun SD sederajat dibuat dari pusat, sementara 30 persen soal dari Kabupaten/Kota masing-masing yang diacak untuk masing-masing provinsi,” paparnya.



Rahmawati menilai, sosialisasi dan kesiapan sekolah turut mempengaruhi hasil TKA. Hal itu terlihat dari capaian TKA SD-SMP yang lebih tinggi dibandingkan jenjang SMA sederajat. Jika dilihat berdasarkan jenis satuan pendidikan,terdapat perbedaan cukup besar pada nilai Bahasa Indonesia jenjang SMP antara sekolah umum dan madrasah. Namun, pada jenjang SD dan madrasah ibtidaiyah, capaian Bahasa Indonesia relatif serupa. Untuk Matematika, hasil kedua jenis sekolah dinilai sama-sama rendah.

”Jadi PR-nya sama antara Kemendikdasmen dan Kemenag untuk matematika,” jelasnya. Temuan Masalah Rahmawati juga menyampaikan kendala yang muncul dalam pelaksanaan TKA. Mulai dari keterbatasan komputer atau laptop, akses internet, hingga jadwal penyelenggaraan ujian yang menggabungkan mata pelajaran pilihan dan wajib.

Persoalan tersebut akan menjadi bahan evaluasi ke depan dalam penyelenggaraan TKA jenjang SMA sederajat tahun depan. Rencananya, rangkaian pelaksanaan akan dimajukan seminggu dari jadwal sebelumnya. Pendaftaran TKA jenjang SMA 2026 akan dibuka pada 18 Agustus-27 September 2026. Untuk pelaksanaannya dimulai pada 24 Oktober sampai 8 November 2026. (mia/aph/Jawa Pos)

[kabarkilat.id]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *