KABARKILAT AI Boleh Canggih, Tapi Mahasiswa Harus Tetap Berpikir – Radar Bandung
RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Kecanggihan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tak seharusnya membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir. Teknologi boleh semakin pintar, tetapi manusia tetap harus menjadi pengendalinya.
Pesan itu disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., saat menghadiri peresmian 4.588 mahasiswa baru Universitas Pasundan (Unpas) sekaligus pembukaan MAHARAJA PASUNDAN 2026 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Bandung, Selasa (15/9/2026).
Di hadapan mahasiswa baru, Brian mengingatkan agar AI tidak digunakan sebagai jalan pintas dalam proses belajar. Menurutnya, teknologi tersebut semestinya menjadi alat bantu untuk memperkuat kemampuan mahasiswa, bukan menggantikan proses berpikir.
Baca juga:
The Genius Math League 2026 Lahirkan Tiga Finalis dari Bandung
“Jangan sampai perkembangan teknologi seperti AI menurunkan kapasitas dan kemampuan ilmiah serta kemampuan menuntut ilmu. Jadikan AI sebagai alat tambahan,” ujar Brian.
Menurut Brian, mahasiswa tetap harus memiliki dasar keilmuan yang kuat. Kemampuan membaca persoalan, menganalisis informasi, menyusun gagasan, hingga mengambil keputusan harus tetap lahir dari proses berpikir manusia.
Karena itu, literasi AI menjadi salah satu bekal yang perlu diperkuat di lingkungan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak cukup hanya bisa menggunakan AI, tetapi juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja dan kapan harus digunakan.
“Mahasiswa harus menjadikan AI sebagai tool, bukan diperbudak oleh AI,” tegasnya.
Tak Cukup Hanya Bermodal Nilai
Brian juga meminta mahasiswa baru tidak menjadikan nilai akademik sebagai satu-satunya target selama menempuh pendidikan tinggi.
Baca juga:
Mahasiswi Asal Malaysia yang Temukan Rumah Kedua di UM Bandung
Menurut dia, dunia kerja membutuhkan lulusan yang memiliki kemampuan nyata. Gelar dan nama perguruan tinggi memang penting, tetapi pada akhirnya kompetensi menjadi salah satu penentu ketika seseorang masuk ke dunia profesional.
“Ketika berada di dunia kerja, yang akan dilihat bukan hanya berasal dari kampus mana, tetapi apa yang bisa kalian kerjakan,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa didorong memanfaatkan masa kuliah untuk memperbanyak pengalaman, mengembangkan keterampilan, dan membangun kemampuan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca juga:
Tips Bijak Belanja Makanan Bergizi di Tengah Tekanan Ekonomi
Persaingan di masa mendatang, kata Brian, juga semakin luas. Lulusan perguruan tinggi Indonesia tidak hanya akan berkompetisi dengan sesama lulusan di dalam negeri, tetapi juga dengan sumber daya manusia dari berbagai negara.
Dia pun meminta mahasiswa tidak takut gagal. Kegagalan dalam perkuliahan, organisasi, maupun ketika mencoba membangun usaha merupakan bagian dari proses menuju kematangan.
“Kegagalan adalah hal biasa. Jangan khawatir dan jangan terlalu bersedih. Bangkit lagi,” pesannya.
Baca juga:
Camat Pacet Lepas Calon Siswa Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2006-2027
4.588 Mahasiswa Baru
Sementara itu, Rektor Unpas Prof. Dr. H. Azhar Affandi, S.E., M.Sc., mengatakan sebanyak 4.588 mahasiswa baru resmi bergabung dengan keluarga besar Unpas pada Tahun Akademik 2026/2027. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Azhar mengatakan perkembangan teknologi membuat mahasiswa harus memiliki kemampuan belajar secara mandiri. Salah satunya melalui konsep self-driven learning.
Baca juga:
UNJANI Dorong Literasi Digital Anak Pekerja Migran Indonesia melalui Pengabdian Internasional
Mahasiswa, kata dia, harus memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus mengembangkan kemampuan, meski teknologi dan kebutuhan dunia kerja terus berubah.
“AI dapat membantu mencari informasi, menerjemahkan bahasa, dan menghasilkan karya. Namun, menggunakan AI tidak boleh menggantikan berpikir manusia,” kata Azhar.
Menurutnya, perguruan tinggi memberikan fondasi berupa ilmu, metodologi, nilai, dan lingkungan akademik. Selanjutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan potensi dirinya.
Baca juga:
Transformasi Digital Pendidikan: Langkah Uninus Wujudkan Cetak Biru Generasi Emas
Peningkatan jumlah mahasiswa baru Unpas juga mendapat apresiasi dari Brian. Dia menilai perguruan tinggi swasta (PTS) memiliki peran besar dalam menyediakan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat.
PTS, menurutnya, menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Mahasiswa ini adalah masa depan bangsa Indonesia. Manfaatkan dunia pendidikan tinggi untuk menambah kapasitas dan kemampuan sehingga ketika lulus bisa memberikan kontribusi penting bagi bangsa,” katanya.
Baca juga:
Universitas Arya Wangsa Buka PMB 2026/2027 dengan Jalur Beasiswa Bagi Maba
Didorong Tak Sekadar Jadi Pengguna
Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan sekaligus Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Pasundan, Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si., turut mengingatkan mahasiswa baru agar mampu beradaptasi dengan perubahan.
Menurut Didi, dunia bergerak semakin cepat. Karena itu, mahasiswa harus memiliki ketangguhan dan kesiapan menghadapi persaingan.
“Masa depan ditentukan oleh kemampuan beradaptasi. Perubahan tidak berjalan perlahan, tetapi terus bergerak,” ujarnya.
Baca juga:
Reformasi Pendidikan Guru Tak Cukup dengan Tambah Lulusan
Didi juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya bercita-cita menjadi pencari kerja. Mereka diharapkan mampu menciptakan peluang dan lapangan pekerjaan.
Selain kompetensi, dia menekankan pentingnya iman, takwa, dan akhlak dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Jadilah insan yang berakhlak mulia dan pelajar yang tangguh. Dengan persaingan yang tinggi dan pekerjaan yang semakin sulit, belajarlah untuk bertahan,” katanya.
Khusus mengenai perkembangan teknologi, Didi berharap mahasiswa Unpas tidak berhenti sebagai pengguna.
“Jangan hanya berhenti menggunakan teknologi, tetapi ke depan jadilah orang yang mampu menciptakan teknologi,” pesannya.
Punya Mimpi Jadi Animator
Baca juga:
Expedisi Gahvara Yava 2026, Berhasil Eksplorasi Lebih Jauh di Gua Vertikal Terdalam di Pulau Jawa
Pesan tentang pentingnya menguasai teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa baru.
Salah satunya Anisa Rahma Alya, mahasiswa Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Unpas. Lulusan SMA Angkasa tersebut memilih Unpas karena menilai kampus itu dapat menjadi pijakan untuk mewujudkan cita-citanya.
“Selain itu Unpas juga akreditasinya Unggul, jadi saya menilai kampus ini bisa menjadi pijakan saya untuk mencapai cita-cita,” ujar Anisa.
Baca juga:
Usai Terpilih Jadi Ketua IKA Unpas, Nenden Euis Mulyati Fokus Benahi AD/ART dan Big Data Alumni
Anisa bercita-cita menjadi animator dan desainer. Kini, perjalanan menuju cita-cita tersebut dimulai dari bangku kuliah.
Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, mahasiswa seperti Anisa akan menghadapi dunia kreatif yang juga terus berubah. Tantangannya bukan sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi tetap memiliki kreativitas dan kemampuan untuk menghasilkan karya dengan gagasan sendiri.
MAHARAJA PASUNDAN 2026 mengusung tema “The Real Choice for Every Generation: Tradisi Kuat, Pendidikan Tepat, Lulusan Hebat.” Acara tersebut menjadi penanda dimulainya perjalanan akademik ribuan mahasiswa baru Unpas sekaligus pengingat bahwa kecanggihan teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis dan kreatif. (mur)
[kabarkilat.id]

