KABARKILAT Zamatra AI Fest #1: Menelusuri Masa Lalu Sumut Lewat Teknologi AI
Medan (Pewarta.co) – Jejak peradaban lama Sumatera Utara akan “dihidupkan” kembali lewat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Mulai dari kejayaan Barus sebagai pusat kapur barus dunia hingga legenda Putri Hijau, seluruhnya akan divisualisasikan dalam Zamatra AI Fest #1 yang digelar di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Medan, pada 22–23 Mei 2025.
Festival ini mengusung tema “Restorasi Hulu Hilir Sumatera Utara” dengan menghadirkan rekonstruksi peradaban masa lalu melalui teknologi AI. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan melalui Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik 2025 – Perseorangan.
Penerima manfaat kegiatan, Bayu Rahmad Putra, menjelaskan Zamatra merupakan nama lain dari Sumatera yang telah dikenal sejak masa lampau, selain Taprobana, Percha, dan Suwarnabhumi.
Menurutnya, kekayaan sejarah Sumatera Utara menjadi alasan utama tema tersebut diangkat, termasuk sejarah Barus yang pernah dikenal sebagai pusat perdagangan kapur barus dunia.
Ia mengatakan, perkembangan AI yang semakin pesat mendorong lahirnya gagasan untuk mengolaborasikan teknologi dengan seni dan kebudayaan, termasuk dalam bentuk visual digital dan pertunjukan teater.
“Melalui AI, kita mencoba menghadirkan kembali peristiwa masa lalu, lanskap sejarah, hingga peradaban yang pernah ada di Sumatera Utara dalam bentuk visual gambar dan video,” kata Bayu, Rabu (6/5/2026).
Beberapa karya yang akan ditampilkan di antaranya visualisasi Barus pada masa lalu yang menggambarkan aktivitas pelaut dan pedagang dari berbagai bangsa. Selain itu, legenda-legenda lokal seperti Putri Hijau juga direkonstruksi menggunakan teknologi AI.
Tak hanya pameran karya, Zamatra AI Fest #1 juga akan menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan seperti Keliling Hulu Hilir Sumatera Utara, Focus Group Discussion (FGD), Seminar AI, Dialog Lintas Gagasan, Bengkel AI atau workshop, Panggung AI, hingga pameran karya berbasis AI.
Bayu mengatakan kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi kreator, praktisi AI, budayawan, hingga akademisi untuk bersama-sama mengembangkan pendekatan baru dalam pelestarian budaya.
“Harapannya, generasi muda tidak hanya melihat warisan budaya, tetapi juga memahami dan merawatnya sebagai bagian dari jati diri,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan itu juga akan digelar seminar AI yang menghadirkan praktisi, akademisi, dan budayawan untuk membahas pemanfaatan teknologi dalam dunia kebudayaan.
Melalui Zamatra AI Fest #1, penyelenggara ingin menghadirkan pengalaman baru dalam menelusuri jejak peradaban Sumatera Utara dengan pendekatan futuristik tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang telah mengakar.
Sementara itu, pengelola Teater Rumah Mata, Agus Susilo, mengatakan pihaknya membuka ruang seluas-luasnya di Ruang Kreatif 001 bagi para kreator, praktisi, dan pegiat budaya untuk berkolaborasi dan bersinergi.
Menurutnya, ruang tersebut diharapkan menjadi wadah lahirnya berbagai kegiatan kreatif dan inovatif berbasis kebudayaan. (gusti)

