CricketHighlightsHot TopicsTennisTravel

KABARKILAT Stakeholder Bersatu, Hilirisasi Tebu Nasional Mulai Bergerak Menuju Swasembada Gula – Radar Bandung


RADARBANDUNG.ID, MAJALENGKA — Upaya mewujudkan swasembada gula nasional mulai menunjukkan arah yang semakin jelas. Di tengah tantangan impor gula dan stagnasi produktivitas tebu selama bertahun-tahun, kolaborasi antara petani, pabrik gula, organisasi tani, hingga pemerintah kini menjadi kekuatan utama dalam membangun ekosistem industri gula yang lebih terintegrasi. Dari hulu hingga hilir, pembangunan sektor tebu tidak lagi dipandang sebagai program parsial, melainkan gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional.

Penguatan sinergi antara pabrik gula, petani, organisasi tani, dan pemerintah menjadi faktor kunci dalam percepatan tebu nasional. Di tengah dorongan pemerintah menuju swasembada gula, program pembangunan kebun benih datar (KBD) mulai diarahkan sebagai satu ekosistem terintegrasi yang menghubungkan sektor hulu hingga hilir industri gula.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Pembangunan Kebun Benih Datar (KBD) di areal HGU PG Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Selasa (19/5/2026), yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan sektor pergulaan, mulai dari unsur petani, organisasi tani, pabrik gula, hingga pemerintah pusat dan daerah.



Perwakilan PG Rajawali II menyatakan bahwa program pembangunan benih dan bongkar ratoon tidak dapat berjalan secara parsial. Menurutnya, target peningkatan produksi gula nasional hanya dapat dicapai apabila seluruh rantai produksi tebu berjalan dalam satu koordinasi yang solid.

“Ini bagian dari upaya besar bersama. PG Rajawali II mendapat amanah menyelesaikan target bongkar ratoon seluas 9.200 hektare. Karena itu pembangunan kebun benih datar 100 hektare di Majalengka menjadi sangat strategis untuk mendukung kebutuhan benih dan keberhasilan program tersebut,” ujar perwakilan PG Rajawali II dalam sambutannya.

Program bongkar ratoon sendiri merupakan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas tebu nasional melalui peremajaan tanaman lama dengan benih unggul yang lebih produktif dan sehat. Selama bertahun-tahun, rendahnya kualitas benih dan tingginya ketergantungan terhadap tanaman ratoon tua dinilai menjadi penyebab stagnasi produksi gula nasional.



Dalam konteks tersebut, pembangunan KBD diposisikan bukan sekadar penyediaan bahan tanam, melainkan bagian penting dari desain industri gula nasional. Melalui sistem benih berjenjang, pemerintah ingin memastikan peningkatan produktivitas dimulai dari sektor hulu sebelum masuk ke tahap pengolahan industri.

Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Jawa Barat, Yudi Setia Kurniawan, menilai keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi antarpemangku kepentingan di daerah.

“Memang kita butuh banyak kolaborasi, butuh banyak sinergi. Kami berharap mitra petani, dinas, Pabrik Gula Rajawali II, dan Kementerian Pertanian bisa terus bekerja bersama. Kami Tani Merdeka Indonesia siap mengawal dan menyukseskan program pertanian,” ujarnya.



Menurut Yudi, keterlibatan petani menjadi elemen utama dalam keberhasilan tebu. Sebab, peningkatan kapasitas industri gula tidak akan berjalan efektif apabila tidak dibarengi penguatan sektor budidaya di tingkat petani.

Ia menyebut selama ini petani masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan akses benih unggul, pembiayaan budidaya, hingga kepastian pasar hasil panen. Karena itu, pola kemitraan antara petani dan industri gula dinilai perlu diperkuat agar tercipta kesinambungan produksi.

Di sisi lain, pabrik gula juga mulai melakukan pembenahan internal untuk menghadapi peningkatan kapasitas produksi. PG Rajawali II menyebut proses modernisasi dan peningkatan kesiapan operasional terus dilakukan, termasuk persiapan musim giling tahun ini, terlebih setelah adanya merger dengan PT Sinergi Gula Nusantara.



“Kita terus berbenah. Pabrik gula terus melengkapi diri dan melakukan upgrade. Insyaallah tahun ini PG Jatitujuh mulai giling pada bulan Juni,” kata perwakilan PG Rajawali II.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat hilirisasi tebu tidak berhenti pada peningkatan produksi di kebun, tetapi juga menyangkut kemampuan industri menyerap dan mengolah hasil panen secara efisien. Dalam beberapa kasus, ketidaksiapan pabrik gula menyebabkan tebu petani tidak terserap optimal sehingga berdampak terhadap harga dan pendapatan petani.

Kementerian Pertanian saat ini menempatkan sektor gula sebagai bagian dari agenda strategis ketahanan pangan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor gula untuk memenuhi kebutuhan domestik, baik untuk konsumsi maupun industri.



Situasi geopolitik global dan gangguan rantai pasok pangan dunia membuat pemerintah mulai mempercepat transformasi sektor pangan strategis, termasuk gula. Karena itu, pembangunan kawasan tebu berbasis benih berjenjang dan integrasi industri dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor dalam jangka panjang.

“Hilirisasi itu ditebar, yang menangkap adalah perkebunan rakyat. Artinya uangnya akan diterima oleh rakyat, hasilnya akan diterima oleh rakyat. Kalau itu tidak dimanfaatkan, itu adalah salah kita,” ujar Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Nandang Sudrajat.

Selain berdampak pada ketahanan pangan, pengembangan kawasan tebu juga memiliki efek ekonomi yang signifikan di daerah. Program pembangunan KBD dan bongkar ratoon menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, mulai dari pengolahan lahan, distribusi benih, penanaman, hingga proses perawatan tanaman.



Skema tersebut juga mendorong perputaran ekonomi desa melalui keterlibatan kelompok tani, koperasi, dan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok industri gula.

Yudi menilai momentum pembangunan kawasan tebu saat ini harus dimanfaatkan sebagai titik balik kebangkitan industri gula nasional, terutama di Jawa Barat yang memiliki potensi lahan cukup besar untuk pengembangan tebu modern.

“Kalau semua bergerak bersama, petani kuat, industrinya siap, dan pemerintah hadir mendukung, maka swasembada gula bukan sesuatu yang mustahil,” ujarnya.



Meski demikian, tantangan program ini masih cukup besar. Sejumlah daerah masih menghadapi persoalan irigasi, akses jalan produksi, hingga kesiapan lahan pengembangan. Selain itu, disiplin dalam penggunaan benih unggul dan pengawasan kualitas tanaman juga menjadi perhatian utama pemerintah.

Karena itu, pembangunan KBD di Majalengka dipandang sebagai model awal bagaimana integrasi antara pemerintah, petani, organisasi tani, dan industri dapat berjalan dalam satu arah pembangunan yang sama.

Ke depan, hilirisasi tebu diperkirakan tidak hanya berorientasi pada gula konsumsi, tetapi juga pengembangan bioetanol, energi terbarukan, dan industri turunan berbasis tebu lainnya.



Dengan kebutuhan energi dan pangan yang terus meningkat, penguatan ekosistem tebu nasional menjadi semakin strategis, bukan hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi nasional secara lebih luas. (nto)

[kabarkilat.id]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *