Editor's PickHot TopicsLatest UpdatesSportsTravel

KABARKILAT Jeritan Petani Nanas Subang: Kehilangan Mata Pencaharian Akibat Dugaan BMN Rebut Tanah Petani


SUBANG, hadejabarnews.com – Isak tangis dan raut wajah penuh kecemasan menyelimuti para petani nanas di salah satu kawasan produktif di Kabupaten Subang. Lahan pertanian yang selama puluhan tahun menjadi gantungan hidup dan urat nadi perekonomian keluarga mereka, kini telah rata dengan tanah, beralih fungsi menjadi perkebunan bibit tebu.

Salah seorang petani nanas setempat, abah adang dengan mata berkaca-kaca mengungkapkan kekecewaannya. Ia mengaku tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah tanaman nanas yang siap panen kini tidak bisa lagi mereka garap.​”Kami sudah turun-temurun bertani nanas di sini. Nanas Subang ini sudah jadi ikon. Kalau lahan ini diambil alih untuk tebu, kami mau kerja apa? Anak-anak kami mau makan apa dan sekolah pakai apa?” ujarnya kepada tim Hadejabar News, jum’at 13/6/26.

Menurut pengakuan warga, proses peralihan lahan ini dirasa kurang melibatkan dialog yang partisipatif dengan para petani penggarap kecil. Mereka berharap ada solusi nyata atau relokasi lahan agar mereka tetap bisa menyambung hidup.

​Di sisi lain, alih fungsi lahan menjadi kebun bibit tebu ini disebut-sebut sebagai bagian dari program strategis PTPN untuk mendukung program swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah.

Pihak pengelola/perusahaan menyatakan bahwa langkah ini diambil guna mengoptimalkan pemanfaatan aset negara dan meningkatkan produktivitas komoditas tebu nasional. Kendati demikian, publik menilai ego sektoral atau target korporasi jangan sampai mengorbankan hajat hidup masyarakat lokal yang sudah ada terlebih dahulu.

Pengamat kebijakan publik dan pertanian Jawa Barat menilai, program ketahanan pangan nasional seharusnya berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani lokal, bukan justru menciptakan kemiskinan baru di daerah.

Hingga berita ini diturunkan, para petani berharap Pemerintah Kabupaten Subang dan pihak BMN dapat segera turun tangan menjadi mediator. Masyarakat meminta adanya solusi jangka panjang, seperti penyediaan lahan pengganti atau pemberdayaan petani nanas agar tidak menjadi korban di tanah kelahiran sendiri.

Kabupaten Subang yang selama ini dikenal sebagai “Kota Nanas” kini menghadapi tantangan besar: mempertahankan identitas komoditas unggulannya atau tergerus oleh arus alih fungsi lahan skala besar. (Din/Red)

Post Views: 67


[kabarkilat.id]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *